Beranda > Psikologi > Manajemen Stres Bagi Relawan

Manajemen Stres Bagi Relawan


Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.
Jakarta, 04 Mei 2002

“Seorang ayah marah besar melihat anaknya menolak untuk melahap sayur bayam. “Kamu harus bersyukur tinggal makan, di sana orang kelaparan tidak ada makanan!” teriak sang ayah dengan nada tinggi dan muka merah padam menahan amarah. Si anak yang baru duduk di bangku SD tidak berkutik selain tertunduk dengan mata berkaca-kaca, untung sang ibu segera datang menenangkan”.

Secuil adegan ini penulis dengar dari seorang teman yang mendapati suaminya mudah emosi dan sangat sensitif setelah pulang dari tugas kemanusiaan di Aceh selama dua minggu. Organisasi tempat suaminya bergabung menerapkan sistem roling dua minggu untuk menghindari kelelahan termasuk psikis, namun mungkin belum dilakukan langkah sistematis untuk mengelola stres negatif (distres) relawannya. Salah satu dampaknya tergambar dalam cuplikan kisah di atas.

Kerja Relawan

Bencana tsunami memang sangat mengguncang dan mengundang banyak orang untuk menjadi relawan baik yang selama ini telah terlatih dan terorganisir, maupun relawan dadakan dan ‘bonek’ (bondo nekat). Belum usai trauma tsunami, gempa dengan kekuatan 8,7 skala Richter kembali mengguncang kawasan antara pulau Nias dan pulau Simeuleuh dengan arah guncangan ke selatan (sebelumnya ke utara). Gempa yang terjadi kurang lebih pukul 11 malam WIB pada Senin 28 Maret 2005 awalnya ditakutkan akan mengundang tsunami, meski tidak terjadi, namun wajah Nias dan Simeuleuh tetap porak poranda dan mengundang para relawan dari pelosok dunia untuk kembali menyingsingkan lengan. Beberapa relawan asing yang belum lama melambaikan salam perpisahan kini harus kembali untuk tahap tanggap darurat seperti mengevakuasi jenazah dan sebagainya, tidak terkecuali relawan dalam negeri yang masih terkonsentrasi di Aceh.

Membayangkan kerja para relawan ini sungguh menggetarkan hati, selain harus jauh dari keluarga, mereka juga harus berhadapan dengan prasangka yang kadang tertuju pada relawan asing atau mereka yang memiliki keyakinan berbeda dengan mayoritas masyarakat korban bencana. Penulis mendapatkan daftar kerja utama yang harus dilakukan para relawan di www.urbanpoor.or.id (08/01/05), yang dirinci berdasarkan kegiatan relawan di Aceh akibat tsunami;

  • identifikasi tempat-tempat penampungan dan kebutuhan pengungsi yang dikelompokkan dalam: lokasi, jumlah pengungsi (berdasarkan gender dan usia), kondisi makanan, kesehatan, pakaian, shelter, air dan sanitasi, juga permintaan informasi dan catatan khusus mengenai kondisi itu
  • distribusi kebutuhan tempat-tempat penampungan yang telah teridentifikasi
  • distribusi relawan ke tempat-tempat penampungan lainnya serta mendirikan Posko
  • evakuasi jenazah (korban)
  • memperbarui (update) informasi undatuk dapat dimanfaatkan pihak luar (yang berkepentingan)
  • mengusahakan logistik untuk didistribusikan
  • bongkar-muat pangan yang diangkat dan disebarkan ke wilayah pengungsian

Stressor (sumber-sumber stres) bagi Relawan

Enrenreich dan Elliot dalam Journal of Peace Psychology ,2004 , menggambarkan dengan rinci stressor bagi relawan, yaitu;

  • tuntuan fisik yang berat dan kondisi tugas (kerja) yang tidak menyenangkan
  • beban kerja yang berlebihan, jangka waktu lama dan kelelahan kronis (chronic fatigue)
  • berkurang atau bahkan hilangnya privasi dan ruang pribadi
  • jauh dari keluarga menimbulkan kecemasan pada kondisi keluarga
  • kurangnya sumber-sumber yang tepat (adequate resources) baik secara personil, waktu, bantuan logistik atau skill (ketrampilan) untuk melakukan tugas yang dibebankan
  • adanya bahaya mengancam (penyakit, terkena gempa susulan, dan sebagainya), perasaan takut dan tidak pasti yang berlebihan
  • kemungkinan melakukan evakuasi yang berulang
  • kemungkinan menyaksikan kemarahan dan menurunnya rasa syukur dalam masyarakat korban
  • secara berulang, teringat akan cerita-cerita traumatis, tragedi atau kisah yang memicu ingatan trauma individu yang telah lampau
  • beban birokratis yang berlebih atau kurangnya dukungan (suport) dan pengertian pimpinan organisasi
  • konflik interpersonal di antara anggota kelompok relawan yang di lapangan mengharuskan mereka untuk dekat dan saling bergantung pada waktu cukup lama
  • perasaan tidak berdaya kala menghadapi tuntutan yang melewati batas (overwhwelming need)
  • perasaan sakit karena tidak bisa memenuhi tuntutan yang ada
  • dilema moral dan etika
  • harus mampu menjaga netralitas (sikap netral) jika berada dalam situasi politik yang terpolarisasi
  • perasaan bersalah melihat korban bencana tidak memiliki makanan, tempat bernaung dan kebutuhan hidup lain.

Rentetan tugas di atas menampilkan emosi-emosi negatif yang sangat mungkin hinggap dan dialami relawan, seperti ‘burnout’, ‘compassion fatigue’, ‘vicarious’ atau secondary traumatization, direct posttraumatic stress syndromes (akibat menyaksikan langsung peristiwa traumatis), depresi, pathological grief reactions, kecemasan, ‘over-involvement’, atau ‘over-identification’ dengan masyarakat korban bencana.

Ilustrasi kecil di awal tulisan merupakan contoh dari timbulnya keterlibatan atau identifikasi berlebih dalam diri relawan terhadap masyarakat Aceh yang terkena bencana. Keterlibatan berlebih ini menyeret emosi relawan hingga menimbulkan perasaan bersalah yang berlebih juga saat kembali ke ‘dunia’nya di mana makanan begitu mudah didapat dan dikonsumsi.

Manajemen Stres untuk Relawan

Besarnya kemungkinan relawan mengalami distres, maka sudah menjadi kebutuhan bila organisasi relawan yang ada mengambil langkah-langkah sistematis untuk mengurangi stres anggotanya. Enrehreich dan Elliot dalam studinya menemukan banyak relawan yang telah kembali dari tugas ternyata tidak mendapatkan dukungan simpatik terhadap distres yang mereka alami. Terdapat pula budaya ‘macho’ dalam organisasi relawan, yakni adanya kecenderungan menolak atau mengingkari dampak psikososial dari pekerjaan kemanusiaan yang penuh tekanan. Bagi sebagian kalangan, menjadi relawan seolah-olah melambungkan orang dan kelompoknya sebagai ‘superhero’ yang tentu tidak membutuhkan perhatian simpatik.

Dalam tiga konferensi “Managing Stress in the Humanitarian Aid Worker” terakhir (dua di antaranya disponsori oleh Antares Foundation & the U.S Center for Disease Control, September 2001 & 2002; konferensi ke tiga diselenggarakan oleh Action Without Borders and Peace Brigades International, Maret 2004), menyatakan, “Nececity of addressing the psychological impact of the humanitarian aid work is beginning to penetrate the humanitarian aid community.”

Survey pada tahun 1997 melalui telepon yang dilakukan McCall & Salma mengungkap bahwa sebagian besar organisasi relawan belum mengembangkan mekanisme suport psikologis bagi relawannya. Enam tahun kemudian, mulai terlihat usaha tersebut meski dipandang belum maksimal oleh Ehrenreich & Elliot. Menurut mereka, sudah saatnya diperlukan usaha untuk mengembangkan seperangkat standar minimum yang jelas bagi ‘kesejahteraan psikologis’ relawan, dan ini merupakan tantangan besar secara internal bagi dunia organisasi kemanusiaan. Usaha ini akan jauh menguntungkan relawan di masa mendatang juga dunia secara umum.

Relawan di Indonesia
Sejak tsunami menyapu kawasan paling barat Indonesia, kita kebanjiran relawan dari dalam maupun luar negeri, yang terlatih juga yang nekat. Namun cukup banyak LSM yang tidak sekedar ‘bonek’ turun mengevakuasi mayat, mengeluarkan korban yang terjepit di reruntuhan, mendata korban dan banyak lagi. Sepatutnyalah Indonesia mengucap terima kasih setulus-tulusnya pada ‘pahlawan kemanusiaan’ ini.

Pada pihak lain, kita harus segera serius membentuk relawan yang permanen dalam arti secara organisasi, program, pelatihan, termasuk melindungi relawan dengan manajemen stres yang sistematis dan terlatih. Bencana alam tidak terbatas pada gempa bumi atau tsunami, melainkan juga tanah longsor baik akibat alam maupun kecerobohan pengelolaan manusia (terutama pemegang otoritas) seperti musibah longsor sampah di Leuwigajah. Bencana kekeringan yang mengancam sodara kita di Nusa Tenggara Timur juga hendaknya masuk agenda organisasi relawan.

Luasnya wilayah Indonesia dan kondisi alam yang ada membutuhkan relawan yang terlatih dan terorganisir baik dari pemerintah maupun non pemerintah. Sudah seharusnya negeri ini memiliki ‘dana abadi’ untuk bencana alam yang bisa terjadi setiap saat, bukankah para ahli geologi menyatakan bahwa pergeseran lempeng bumi masih dan akan terus terjadi? Usaha pencegahan pun harus segera berbenah secara serius dengan studi dan teknologi tinggi serta komunikasi efektif dengan masyarakat termasuk organisasi relawan.

Relawan adalah manusia biasa, ia memiliki resiko sangat besar dampak psikologis dari tugas kemanusiaan yang diemban, karenanya ia berhak mendapat perlindungan diri tidak hanya secara fisik, namun ada yang lebih laten yaitu dampak psikososial. Penulis berharap tulisan ini dapat menambahkan sedikit gambaran lebih jelas akan penting dan beratnya tugas relawan. Sebagai manusia biasa, relawan juga membutuhkan ‘bekal’ dan ‘senjata’ untuk menangani distres dalam tugasnya. Sehingga, ketika mereka kembali ke dunia ‘normal’, ia bisa kembali menyesuaikan diri dan menerima kenyataan yang jauh berbeda dari tempat tugas.

————————————–

Sumber:

Ehrenreich,J.H. & Elliot,T.L. (2004) Managing stress in humanitarian aid workers: a survey of humanitarian aid agencies’ psychosocial training and support of staff. Dalam Journal of Peace Psychology, vol 10, no.1,p.5-66

Relawan Forum LSM Aceh. http://www.urbanpoor.or.id. 08/01/05

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: