Beranda > Islam > Niat Shalat Qashar Jama’ dan Qadha

Niat Shalat Qashar Jama’ dan Qadha


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadhirat Allah SWT, Sholawat dan Salam selalu tercurahkan kaharibaan Junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW keluarga dan para pengikutnya.

Yaa Habib.. Ana ingin bertanya :
1. Bagaimana niat shalat qashar jama’ Taqdim dan Ta’khir ? baik dari Dzuhur ke Ashar
atau sebaliknya dari Ashar ke Dzuhur
2. Bagaimana niat shalat qadha? misal; shalat Maghrib dan Isya’; dan dikerjakan diwaktu
Isya’ atau Maghrib? ( misalnya shalat Isya’ terlebih dahulu kemudian niat shalat
Qadha Maghrib)

Mohon jawabannya Yaa Habib dan Syukron atas Jawabannya.

Semoga Allah SWT MERIDHOI kita semua Aamiin

Wassalamu’alaikum

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jawaban :

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan kesejukan sanubari semoga selalu mengiringi hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
1. Ushalli fardhu (ddhuhri/l’ashri/lmaghribi/l’isya’i) Jam’an, Taqdiiman (atau Ta’khiiran) lillahi ta’ala
aku niat shalat fardhu dhuhur /asar/magrib/isya jamak taqdim (digabungkan dan didahulukan / diakhirkan dari waktunya), karena Allah ta’ala

2. Ushalli fardhuddhuhri/l’ashri /l’isya’I (tidak ada Qashr untuk shalat maghrib) Taqdiiman (atau Ta’khiiran) Qashran lillahi ta’ala
“aku niat shalat fardhu dhuhur /asar /isya jamak taqdim (digabungkan dan didahulukan dari waktunya/ diakhirkan waktunya), karena Allah ta’ala

Niat shalat dalam perjalanan dengan Qashar tanpa jamak :
Ushalli fardhuddhuhri/l’ashri /l’isya’I (tidak ada Qashr untuk shalat maghrib) Qashran lillahi ta’ala.
Aku niat shalat fardhuddhuhri/l’ashri /l’isya’I (diringkas dari 4 rakaat menjadi dua rakaat /qashran dan tak ada qashran untuk subuh dan magrib)

Yaitu Qashar tanpa jamak, ia shalat dhuhur atau asar atau isya tetap pada waktunya, tidak dijamak, namun ia meng Qasharnya, hal ini boleh, karena Jamak tidak mesti Qashar, dan Qashar tak harus jamak.

3. Tentunya syaratnya adalah perjalanan lebih dari marhalatain (82km) bagi Qashar atau Jamak Qashar, dan perjalanannya bukan perjalanan maksiat, atau makruh, perjalanan untuk maksiat telah jelas, perjalanan untuk hal yg makruh misalnya menjual kafan atau peti mati, hal ini makruh, atau perjalanan demi membeli / menjual barang barang makruh, atau perjalanan makruh lainnya.

Dan perjalanan keluar dari wilayahnya sudah boleh jamak, tanpa qashar.

namun lafadh itu tadi sunnah hukumnya dan bukan merupakan rukun shalat, yg wajib ada adalah niatnya walau dalam hati.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam rahmat Nya swt selalu,

Wallahu a’lam

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: